Turut Berduka Cita – Repost


Beberapa hari yang lalu saya menerima e-mail yang mengabarkan seorang teman di sekolah menengah meninggal dunia. Mungkin saya tidak kaget karena sudah terbiasa mengurus kematian. Bapak dan dua ibu saya. Jadi,meninggal buat saya bukan sebuah isu besar yang meluluhlantakkan. Waktu pertama, tentunya demikian. Lama-lama jadi biasa, sama seperti dosa.

*****

Saya dahulu protes mengapa orang tua saya harus meninggal dan saya berduka karenanya. Kalau ternyata sekarang saya menjadi kuat dan ketakutan saya menjadi sendiri tidak terbukti, benarkah saya harus berduka dan meluluhlantakkan? Maka benarlah pengalaman hidup itu tak ada yang buruk meski buruk keadaannya. Kan katanya selalu ada sinar matahari setelah hujan turun dan banjir. ada masa kelelep, ada masa menjadi tidak kelelep. Kelelep itu tenggelam.

Maka sampai hari ini saya tak membalas e-mail itu. Saya hanya membaca beberapa teman melayangkan balasan turut berduka cita. Saya sendiri bingung apa perlu saya mengirimkan balasan sebagai tanda kalau saya ini penuh perhatian, bukan turut dalam duka yang benar?

Karena sejujurnya saya membaca e-mail itu malah tidak berduka, tapi malah diam dan membayangkan teman saya itu, yang di masa sekolah seorang pendiam, dan tidak ada yang istimewa darinya. Ia seorang yang tertib. Beda dengan saya dan teman-teman lainnya. Penuh gejolak. Saya tak tahu apakah hidupnya setelah itu bergejolak.

Saya pernah dimarahi seorang teman karena menurutnya saya ini tidak peka terhadap kesedihan orang hanya karena tidak menangis saat melayat.

Bahwa kematian itu tak perlu ditakuti, tak perlu ada duka di dalamnya. Karena buat saya, kalau saya ini bisa hidup dan bersuka cita yaaa…meninggal sama dengan kelahiran, disambut dengan sukacita. Waktu ayah saya meninggal dunia yaaa…saya tak bisa menangis. Teman saya mengatakan:”Mas, nangiso, ndak papa loh…merasa kehilangan itu manusiawi.”

Saya tak tahu mengapa saat itu saya tak bisa menangis dan sejujurnya saya kehilangan ayah, tapi di saat itu juga saya bahagia karena ia meninggal di dalam Tuhan yang ia percayai. Buat saya itu sebuah anugerah besar hanya karena saya tidak memilikinya lagi?

*****

Benarkah saya memiliki ayah saya? Sudah berjuta kali saya mendengar dan dinasihati bahwa semua yang saya punyai itu milik Sang Pencipta, tetapi saat kehilangan seperti ini, nasihat itu tak berguna sama sekali dan saya protes seolah saya menjadi pemilik tunggal. Itu mengapa waktu ibu saya meninggal jauh sebelum ayah saya menyusul, saya “demo” di hadapan Tuhan dengan bunyi-bunyian seperti ini. “Why you did this to me God? Tuhan sekarang ibu saya pergi, jangan ambil ayah saya juga. Saya masih kecil, masih membutuhkan seorang ayah.”

Sekarang saya mikir, kok saya ini bisa sok tahunya. Memang kalau ayah saya hidup, hidup saya bisa lebih makmur? Bukankah kemakmuran dan ketentraman hidup itu datang dari Tuhan, bukan dari ayah saya? Jadi saya sudah meleceh kalau kemampuan Tuhan dalam memelihara dan menjamin hidup saya itu lebih rendah dari kemampuan ayah saya.

Artinya, saya lebih percaya pada ayah saya daripada Tuhan yang tidak terlihat itu? Padahal, yang memberi napas setiap pagi malah dari yang tidak terlihat itu. Sudah berkali-kali yang tidak terlihat membuktikan pemeliharaannya, yaa…berkali-kali saya tetap percaya dengan yang terlihat, yang paling mudah mengecewakan.

Mengapa saya berduka? Karena kehilangan? Kalau merasa kehilangan berarti sesuatu diambil dari saya. Pertanyaan berikutnya. Mengapa kalau diambil berdukacita? Lha wong saya ini tidak punya apa-apa. Katanya semua yang saya punya milik Sang Pemberi, jadi apa hak saya untuk merasa diambil dan kemudian berduka?

Saya ini mestinya besyukur boleh pernah punya ayah, ibu, teman yang memberi warna dalam hidup saya. Kalau itu berakhir, semestinya saya bahagia dan berterima kasih akrena merekalah saya jadi begindang.

Maka kalau saya nanti game over, saya tak mau ada orang yang memasang iklan kematian dengan kalimat turut berdukacita. atau yang datang ke tempat saya dengan baju hitam dan dengan muka yang sedih dan pura-pura sedih. Tak peru ada karangan bunga besar. Karena buat saya kalau saya game over yang penting ada di dalam Tuhan yang saya percayai. Buat saya itu bahagia dan beruntung.

Kalau ada orang beruntung kok berdukacita? Kalau hidup ini dimisalkan sebuah pertandingan dan saya mengakhirinya dengan cihui, yaaa…enggak perlu berdukacita, bukan? Bagaimana yang cihui didukacitakan?

“Eh…siapa juga yang berdukacita kalau eluuu game over. Inget cong, gak ada yang mau datang dan gak ada yang mau ngirimin elo bunga. Gak usah sok tahu.” Nurani saya selalu mengambil kesempatan dalam situasi empuk seperti ini.

** ini bukan tulisan saya, ini saya ambil dari postingan teman saya di note facebook **

This entry was posted in Catatan Kehidupan, Motivasi Hidup and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s