Rindu Ibu


Ibu. Tetaplah tegar.

Oh! Ibu
Kau disiram bayu pagi
Kehilangan terasa kini
Dan kesepian

Dan aku
Bagai purnama gerhana
Di ibarat lautan kering
Tiada tempat ku layarkan

Hasratku ini
Masih belum sempat
Kubuktikannya kepadamu
Ibu tersayang
Kucurahkan rasa hati

Ku tatapi potret mu berulang kali
Kurenungkan kalimah yang diberi

Tuhan Yang Esa
Ampuni dosa ibu
Tempatkan mereka
Di antara kekasih kekasihMu

Oh! Ibu
Kau kasih sejati
Kutaburkan doa
Untukmu ibu

Ampunilah dosaku
Sejak ku dilahirkan
Hingga akhir hayatmu

Saat ini
Kuteruskan hidup
Tanpa bersamamu ibu

Ibu…

Emang gak enak ditinggal mati orang. Apalagi suami sendiri. Emang benar kata orang Jawa. Suami atau istri dalam bahasa Jawa disebut Garwa = Sigaraning Nyawa. Artinya, suami atau istri itu belahan jiwa. Kehilangan suami atau istri itu lebih menyisakan duka daripada kehilangan orang tua. Mungkin inilah yang dinamakan cinta sejati.

Ya mungkin karena orang tuaku udah menikah cukup lama. Mungkin udah lebih dari 30 tahun menjalani hidup bersama, baik suka maupun duka. Terlalu dramatis tapi emang seperti itulah keadaannya. Mungkin yang menyebabkan ibuku sangat berduka adalah kenangan yang ditinggalkan ayah.

Ayah meninggal karena sakit. Diagnosa dokter sih lever. Tapi nggak tahu juga sebenernya sakit apa. Ada juga yang bilang sakit radang lambung akut. Sebelum kepergiannya, aku merawat ayah hampir satu bulan lamanya di Rumah Sakit sebelum akhirnya ayah minta dibawa pulang karena ngrasa nggak ada perubahan yang berarti. Ingin mencoba pengobatan alternatif katanya.

Ibu juga menemaniku merawat ayah secara bergantian. Kadang aku menginap bersama ibu di Rumah Sakit. Ibu tidur di dalam kamar tempat ayah dirawat dan aku di luar kamar. Dingin. Udara malam terasa menusuk daging. Rumah sakit itu berada di tengah area persawahan sehingga tidak ada pepohonan yang menghalangi tiupan angin malam.

Badan ayahku sangat kurus, lemah lunglai. Sangat berbeda dengan keadaan beliau ketika masih sehat. Badannya begitu kekar walaupun usianya sudah setengah abad lebih. Aku harus membopohnya ketika beliau ingin ke kamar mandi. Sesekali aku harus keluar dari kamar ayah dirawat untuk mengusap air mata yang berlinang setelah aku membopoh ayahku ke kamar mandi. Aku tak kuasa menahan kesedihan melihat ayahku seperti itu.

Dimana….akan ku cari
Aku menangis seorang diri
Hatiku ingin slalu bertemu
Untukmu aku bernyanyi
Untuk ayah tercinta, aku ingin bernyanyi
Walau air mata di pipiku….
Ayah dengarkanlah, aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi…..

Lihatlah… hari berganti
Namun tiada seindah dahulu
Datanglah aku ingin bertemu
Untukmu aku bernyanyi
Untuk ayah tercinta, aku ingin bernyanyi
Walau air mata di pipiku….
Ayah dengarkanlah, aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi…..

Datanglah aku ingin bertemu
Untukmu aku bernyanyi
Untuk ayah tercinta, aku ingin bernyanyi
Walau air mata di pipiku….
Ayah dengarkanlah, aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi…..

Aku saja yang hanya 21 tahun bersamanya merasa begitu sangat kehilangan, apalagi ibuku yang udah lebih dari 30 tahun bersamanya. Semoga Ibu selalu diberikan ketabahan dalam menjalani hidupnya tanpa ditemani garwanipun (sigaraning nyawa).

This entry was posted in Catatan Kehidupan, Galau and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s