Plus Minus Masa Jabatan 2 Kali


Tulisan ini terinspirasi oleh adek kelas saya : MN.

Suatu ketika, saya berbincang-bincang dengan adek kelas saya, perbincangan di mulai dengan topik yang ringan. Entah dimulai dari mana, tahu-tahu kok saya membicarakan tentang sistem pemilihan kepala Negara dan kemudian kepala daerah yang sekarang hanya boleh menjabat selama dua kali.

Bukan bermaksud untuk ikut terjun ke dalam dunia politik praktis, hanya sekedar reshare. Ini adalah unek-unek dari teman saya, entah dia itu seorang politikus atau polikakus yang jelas saya tidak tahu. Setahu saya, dia adalah adek kelas saya yang baik hati, tidak sombong, suka menabung di Bank Mandiri, mandi tiga kali sehari pakai sabun Lifebuoy, mencuci pakaian dengan sabun Rinso, keramas pake Shampoo Emeron (biasanya saya pake buat nyuci motor, hehehe), dan kebiasaan-kebiasaan lainnya.

Lalu apa sih kelebihan dari sistem pendudukan jabatan selama dua kali?? Kalo menurut dia sih, katanya kalo seorang pejabat hanya menduduki jabatannya selama dua periode saja, akan sedikit mengurangi adanya kekuasaan yang mutlak terhadap pemerintahan seperti yang terjadi pada jaman orde baru.

Entah apa bahasa kerennya, yang jelas, jabatan selama dua kali dibuat untuk mencegah sistem orde baru terulang kembali.

Lalu apa minusnya?? Nah, ini buat yang udah terpilih dua kali. Saat dia menjabat untuk yang pertama kalinya, maka sistem yang dia terapkan akan menjadi baik karena dia masih punya tendensi untuk menjadi yang nomer satu di periode berikutnya. Dia akan mencari nama baik, sehingga pemerintahannya menjadi baik. Kebijakan berpihak kepada rakyat, dan kebaikan-kebaikan yang lainnya.

Nah, saat periode pemerintahan yang kedua akan terlihat keburukannya. Dia nggak akan mengurusi nama baiknya. Buat apa?? Lha wong periode berikutnya saya nggak akan bisa njabat lagi. Kecenderungannya adalah dia akan mencari keuntungan yang sebesar-besarnya untuk mengembalikan modal saat dia kampanye.

Praktis, dengan demikian kebijakan yang dibuat akan menguntungkan diri sendiri dan tidak berpihak kepada rakyat. Namun nggak selamanya juga seperti itu. Tergantung dari orangnya. Ada juga mungkin dia ingin berkarir lebih tinggi lagi, dari bupati menjadi gubernur atau mungkin lebih tinggi lagi.

Ya itu hanya opini dari teman saya aja. Mungkin nggak semuanya bisa dibenarkan. Lha wong hanya unek-unek saja. Mohon maaf bila ada kesalahan dalam opini. Saya hanya menyampaikan saja. Thanks yang udah mau baca.

This entry was posted in Ilmiah, Ulasan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s