“yang pipinya kemerah-merahan” :’)


aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

-sapardi djoko damono-

Mira. Rangga pertama kali bertemu dengannya sekitar tahun 2005. Perkenalan yang tak sengaja dan mungkin tak terbayang akan bertemu dengannya. Sekedar kenal, begitulah masa satu tahun dilewati di masa SMA.

Irfan, teman sebangku Rangga itulah yang mengenalkannya. Irfan yang selalu mengantarkan Mira pulang sekolah, menggunakan sepeda motor YAMAHA warna biru milik Rangga. Motor kesayangan Rangga yang diberi nama Surumi itu memang terawat dengan baik, walaupun keluaran tahun 2003, tapi masih terlihat mulus seperti baru.

Mira, gadis berkulit putih dan berjilbab itu memang manis. Terlihat dari senyumnya yang selalu mempesonakan setiap lelaki yang memandangnya. Meskipun anak orang yang berada, tapi dia tidak sombong. Tekun beribadah membuat Mira menjadi calon istri idaman setiap muslim di dunia ini.

Mira adalah siswi kelas 1 SMA ketika Rangga duduk di kelas 3 SMA. Namun masa satu tahun itu tidak membuat keduanya dekat. Mira memang sudah dekat dengan Irfan, sedangkan Rangga dekat dengan Tina.

Empat tahun pun berlalu. Tina, wanita pujaan Rangga telah menikah dengan orang lain dan sekarang telah memiliki seorang putri yang cantik, secantik ibunya. Irfan pun akan segera melangsungkan pernikahan dengan Dina, adik tingkatnya di masa kuliah dulu.

Mungkin ini yang dinamakan jodoh, atau entahlah apa namanya. Rangga mulai dekat dengan Mira, walaupun jarak memisahkan keduanya, mereka tetap saling berkomunikasi dengan menggunakan media telekomunikasi. Wallahu a’lam.

Mira, dia memang berbakat menaklukkan hati setiap lelaki. Bukan hanya karena parasnya yang ayu, tapi juga karena akhlaknya yang mulia. Sungguh wanita yang luar biasa. Tidak terkecuali Rangga, lelaki biasa itupun perlahan mulai menaruh hati padanya.

“Ah, entahlah… Perasaan apa ini??? Apakah aku menjadi suka dengan “teman” sahabatku ini??? Aku tak kuasa menahan perasaan ini.. Dia begitu lihai memainkan perasaanku padanya..”, itulah yang selalu ada dipikiran Rangga saat ini.

***

Gelisah. Perasaan Rangga mulai gelisah.

“Apa yang aku rasakan ini?? Perasaan tidak enak apa ini?? Aku tak bisa menjawab pertanyaan Mira.. Tanganku tak kuasa mengetikkan sebuah kata untuk menjawab pertanyaan Mira melalui Messenger ini.. Lidahku kelu. Aku mati gaya..”

Rangga seperti mati gaya. Membaca cerita Mira tentang seorang lelaki yang menyukai Mira. Mira bercerita panjang lebar, tapi Rangga hanya bisa membaca tanpa menjawab. Seolah tangan Rangga membeku direndam air es yang bersuhu nol derajat celcius.

Rangga mulai mengalihkan pembicaraan. Sepertinya, itu memang membuat perasaan Rangga menjadi tidak enak. Seperti menelan duri. Nampaknya, Rangga memang tidak bisa lepas dari Mira. to be continued…

with love,
rangga

This entry was posted in Catatan Kehidupan, Galau. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s