ayah, aku rindu.. :’)


Barang siapa mencita-citakan satu kebaikan dan tidak jadi melaksanakannya, maka baginya dituliskan (pahala) kebaikan. (HR. Muslim)

In Memoriam

Kala itu, Rangga masih duduk di bangku SMP. Dua orang kakaknya sudah lulus dari SMK, sedangkan satu lagi kakaknya sedang menempuh pendidikan Strata 1 sebuah universitas swasta di Malang. Anak petani ini memang lebih beruntung dibandingkan saudaranya yang lain. Bisa dikatakan, Rangga memiliki kecerdasan yang lebih dibandingkan saudara-saudaranya.

Sejak duduk di bangku kelas 2 SD, Rangga selalu meraih peringkat 1 di kelasnya. Ketika lulus, dia juga mendapatkan nilai NEM tertinggi di desanya. Di SMP pun, dia juga selalu langganan peringkat 3 besar di kelasnya. Tak jarang, Rangga juga meraih peringkat 10 besar parallel kelas di SMP tersebut.

Ayah Rangga yang sudah tua itu, memang menaruh harapan yang besar pada anak laki-laki terakhirnya itu. Beliau berharap, Rangga bisa mengangkat kehidupan keluarganya. Satu harapan yang selalu diingat oleh Rangga adalah keinginan ayahnya untuk menginjakkan kaki di Tanah Suci untuk menunaikan Rukun Islam yang kelima, naik haji.

“Nak, aku doakan kamu nanti jadi anak yang pintar. Menjadi seorang Sarjana. Memperoleh pekerjaan yang enak. Ayah ingin kamu bisa memberangkatkan saya ke tanah suci.”, itulah kata-kata yang selalu diucapkan ayah Rangga di saat mereka berkumpul bersama dengan sang ibu juga.

***

Rangga dewasa, kini sudah menjadi mahasiswa teknik di sebuah Institut ternama di Surabaya. Memang sungguh kuasa dari Sang Pencipta, Rangga mendapatkan beasiswa penuh untuk kuliah di Institut tersebut. Tak hanya bebas biaya SPP, tapi juga mendapatkan uang saku per bulan yang cukup untuk membiayai hidupnya di tanah perantauan.

Masih terngiang di dalam ingatan Rangga, liburan semester 4 Rangga, dihabiskan di RSI untuk merawat sang ayah  yang sakit. Dulu sang ayah yang bahunya kekar itu, legam terbakar matahari, kini tampak kurus, lunglai tak berdaging. Tak berdaya. Bahkan untuk ke toilet pun harus dibopong oleh Rangga.

Rangga yang tidak pernah menangis sedari lulus SD itu, terlihat berkaca-kaca matanya. Sesekali dia keluar dari kamar Rumah Sakit itu karena tidak mampu menahan air mata yang menetes di pipinya. Rangga tak mau terlihat rapuh di depan sang ayah.

***

Adzan Isya berkumandang. Rangga berangkat ke masjid di dekat kos-nya. Setelah sholat Isya, disambung langsung dengan sholat Tarawih. Ini adalah sholat Tarawih pertama di bulan puasa tahun itu. Masa perkuliahan sudah akan dimulai, Rangga sudah berada di Surabaya untuk persiapan FRS.

Sepulang dari masjid, handphone Rangga berdering. Panggilan dari kakaknya, memintanya untuk pulang saat itu juga.

“Ya Allah, ada apakah ini??? Apakah sesuatu terjadi pada ayah saya?? Ada apa kakakku tiba-tiba memintaku untuk pulang di malam seperti ini???”

Rangga pun bergegas ke terminal, mencari bus ke arah selatan. Perjalanan ditempuh dengan perasaan yang gundah. “Semoga tidak terjadi apa-apa ya Allah”, kata Rangga.

Sesampainya di kota kelahirannya, Rangga berjalan menuju rumahnya. Di jalan, perasaan Rangga semakin tak menentu.

“Kenapa rumah saya tampak terang sekali??? Ada banyak lampu yang menyinari.. Terpasang terop dan banyak orang berkumpul di depan rumah saya..”

Sesampainya di rumah, Rangga mendapati ayahnya sudah tiada. Innalilahi wa inna ilaihi roji’un. Rangga meluapkan segala tangisnya ke pelukan ibunya. Duka yang teramat mendalam saat itu dirasakan oleh Rangga.

Terbayang di benak Rangga, “Saya ingin ayah saya hadir saat kelulusan saya. Saat wisuda saya. Mengenakan batik kebesarannya, batik yang bahkan tidak dia pakai untuk bertemu dengan bupati. Dengan kopyah hitamnya itu. Saya belum bisa mengabulkan keinginannya untuk berangkat ke tanah suci, menunaikan Rukun Islam yang kelima.”

Ayah Rangga tutup usia di usianya yang ke-63 tahun. Usia yang sama ketika Kanjeng Nabi Muhammad SAW. dipanggil oleh Allah SWT. Masih teringat juga kata yang sering diucapkan oleh sang ayah kepada Rangga, “Jika orang usianya lebih dari 63 tahun, berarti dia mendapat bonus umur dari Allah. Dan jika usianya kurang dari 63 tahun, berarti dia mendapatkan kortingan umur. Saya tidak ingin panjang umur, tapi menyusahkan orang lain.”

Ayah Rangga tak ingin menyusahkan keluarganya untuk mengurusinya yang beberapa bulan ini sakit. Yang hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur. Inilah yang telah digariskan oleh Allah SWT. Inilah yang terbaik untuk umatnya. Semoga selalu mendapatkan kebaikan di sisiNya. Amin.

with love,
rangga

This entry was posted in Catatan Kehidupan, Galau. Bookmark the permalink.

2 Responses to ayah, aku rindu.. :’)

  1. LAKurniaN says:

    terharu aku yun… :’-)

    nice… d(^o^)b

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s