Adakah Orang Jakarta yang Sabar?


Sudah setahun lebih, hidup di kota Jakarta. Kota terpadat di Indonesia, saya menyebutnya “kutho asu” karena semua orang di sini mudah terpancing emosinya, penuh dengan tipu muslihat, saling makan teman, dan gejolak jiwa. Walau sudah setahun hidup di Jakarta, saya baru beberapa minggu ini berkendara menggunakan sepeda motor.

Beberapa hari berkendara di Jakarta, saya merasakan sebuah fenomena yang tidak pernah saya jumpai di kota asal saya, Tulungagung. Bahkan di kota besar macam Surabaya, fenomena ini tidak juga saya jumpai. Fenomena apa itu?

Kalau boleh saya menganalisis perilaku orang di jalan raya, kecenderungan dari mereka memiliki tingkat stress yang tinggi. Saya berbicara tentang perilaku pengendara di kota Jakarta. Tidak hanya pengendara sepeda motor tapi juga pengendara mobil. Hampir semua orang terburu-buru, tidak memiliki kesabaran. Pendapat pribadi sih, sejauh saya mengamati perilaku para manusia yang mungkin sebenarnya bukan penduduk asli Jakarta.

Behaviour yang saya lihat ketika saya berada di tengah kemacetan. Padahal sudah tahu di jalanan yang macet, nyari tak bergerak seperti deretan kendaraan yang sedang parkir, namun mereka masih saja membunyikan klakson seakan memaksa pengendara di depan mereka untuk segera menjalankan kendaraannya. Saya hanya bisa tersenyum menyaksikan fenomena ini.

Mungkin kalo orang berada di kota Tulungagung, dan berada di depan kendaraan yang membunyikan klakson kepada orang tersebut pada situasi yang demikian, kata-kata ini akan keluar dari mulutnya. “Matamu suwek to?? Neng ngarep sik jiktas mlaku cuk..”, sembari turun dari kendaraan dan mendekati pengendara yang membunyikan klakson tersebut.

Macet memang mengesalkan, tapi kalo sudah tahu Jakarta itu kota macet, kenapa kita tidak menghindari saja macet itu? Toh semua orang juga sudah tahu di mana titik-titik kemacetan di jam-jam sibuk. Kalau tidak bisa mengantisipasi, itu sudah jadi resiko lu coy. Sudah tahu di situ rawan macet, masih saja lewat situ. Berpikir cerdas dong.

Kenapa kita tidak menikmati saja kemacetan itu? Seperti waktu kita menunggu lampu merah di perempatan sembari menikmati hisapan bahan bakar premium dari karburator menuju piston untuk dibakar.

Opsi jalan kaki?? Hmm.. Tidak recommended di Jakarta. Ruang untuk pedestrian di Jakarta tidak senyaman di kota-kota seperti Jepang dan Korea. Bahkan setiap saya pulang kantor jalan kaki, saya pasti menyenggol spion mobil karena tidak ada space untuk pedestrian.

Memang paling enak adalah di kota kecil Tulungagung. No speed limitation. Aku bisa memacu mesin bervolume 110ml hingga 110km/jam tanpa hambatan yang berarti. Nyantai OK, kenceng juga OK. Indahnya Tulungagung.🙂

with love🙂
rangga

This entry was posted in Catatan Kehidupan, Galau and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s