Pengemis Jaman Sekarang


Jam sudah menunjukkan angka 12, adzan berkumandang menandakan sudah memasuki waktu sholat Dzuhur. Aku bergegas meninggalkan pekerjaan dan turun ke bawah untuk menunaikan sholat Dzuhur di masjid. Di tempatku bekerja, tidak ada yang pasti, selagi kamu punya waktu untuk sholat maka segeralah mengambil air wudhu dan tunaikanlah sholat. Jika kamu tidak segera menunaikan kewajibanmu, belum tentu kamu ada waktu untuk sholat. Bisa jadi dipanggil meeting sama bos yang tak tentu juga kapan selesainya.

Seperti biasa, setelah sholat berjamaah dilanjut dengan dzikir berjamaah dan doa berjamaah yang diimami oleh Kiai di masjid dekat kantorku. Masjid di kantorku memang besar, dan jamaahnya lumayan banyak. Kalau sholat dhuhur seperti ini, shaf selalu saja penuh sampai ke belakang. Bahkan beberapa kali lantai satu tak cukup menampung para jamaah dan yang telat datang harus naik ke lantai dua.

Saking banyaknya jamaah, di pintu keluar masjid sering dijumpai orang yang membagi-bagikan brosur. Entah itu brosur mobil, motor, ataupun rumah. Sayangnya aku nggak pernah dikasih brosur satupun. Mungkin karena tampangku yang menunjukkan jati diri sebagai orang miskin jadi orang yang mbagiin brosur langsung berpikir, “Ah, ini pasti orang kere. Mana mampu beli motor, mobil atau rumah. Dikasih brosur juga percuma.”

Pernah sekali dikasih brosur mobil. Seketika langsung aku lihat penampilanku. Apakah ada yang salah dengan penampilanku hari ini? Oh, ternyata aku pake ID Card Telk****. Pantesan dikasih brosurnya.

Selain orang yang membagikan brosur, setiap hari kerja (kalau di luar hari kerja aku nggak tahu) pasti ada pengemis yang meminta-minta di depan pintu keluar masjid. Mulai dari sholat dzuhur, ashar, sampai magrib pasti ada pengemis. Minimal satu orang lah. Kalau sholat subuh dan isya’ aku nggak tahu. Karena aku nggak 24 jam ada di kantor. Hehehe.

Kalau dilihat-lihat, pengemisnya ya itu-itu aja. Maximal variannya cuma 10 orang lah. Nggak lebih dari itu. Nggak tahu apakah mereka itu penduduk lokal atau gimana. Awalnya aku kasihan melihat mereka dan ingin memberi. Tapi waktu mau ngasih, lupa nggak bawa dompet ataupun duit. Jadi kuurungkan saja niatku untuk memberi.

Setelah aku sholat, aku makan siang di pantry kantor seperti biasanya. Makan siang bareng rekan-rekan di kantor sambil bercengkerama dan ngobrol-ngobrol. Ternyata aku punya temen juga di kantor ya. Hehehe. Selesai makan aku nglanjutin pekerjaanku.

Jam 3 sore, adzan ashar berkumandang. Aku turun lagi ke bawah untuk menunaikan sholat ashar berjamaah di masjid. Di depan pintu gerbang masjid sudah ada pengemis yang menunggu selesainya sholat. Memang mereka biasanya melaksanakan pekerjaannya setelah para jamaah selesai sholat. Anehnya dari mereka, tidak ada satu pun yang ikut sholat berjamaah di masjid. Padahal hampir semua pengemis yang ada di situ pasti memakai jilbab.

Setelah selesai sholat, aku kebetulan langsung keluar karena masih ada pekerjaan yang belum aku selesaikan. Ketika keluar dari gerbang masjid, aku melihat anak seorang pengemis sekitar umur 7 tahun. Aku tahu itu anak dari pengemis karena ibunya memanggilnya. Ibunya sedang meminta-minta kepada para jamaah yang sudah keluar dari masjid. Dan yang paling membuatku kesal adalah, anak itu membawa mainan yang bisa dibilang tidak murah. PSP. Playstation Portable. Dalam hatiku, aku aja yang kerja 2 tahun belum bisa beli PS Portable. Ini yang anaknya tukang ngemis aja bisa beli mainan kayak gitu. WTF.

Sebenarnya berapa sih penghasilan seorang pengemis itu? Kok sampek bisa beliin anaknya yang masih umur 7 tahun mainan yang tidak murah. Aku jadi berpikir, mungkin tas gendongan yang dibawa pengemis itu isinya iPad dan MacBook Air. Apple fanboy juga ternyata dia.

Dan mulai sekarang, aku nggak akan pernah ngasih pengemis yang ada di Jakarta. Sepertinya mengemis sudah dijadikan pekerjaan tetap.

Saya jadi inget guyonan temen-temen di ITS dulu. Ada pengemis yang selalu mangkal di depan jembatan sirotol mustakim yang mengarah ke keputih. Katanya anak pengemis itu yang satu di ITB dan yang satu di ITS. Wow banget pikirku. Hebat banget, ibunya ngemis anaknya bisa kuliah di ITB dan UI. Lalu aku tanya ke temenku, di sono ngambil apa bro? Ya ngemis juga jawabnya. FUCK..!!

This entry was posted in Catatan Kehidupan, Motivasi Hidup. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s