Tahlil & Yasin untuk Orang yang Sudah Meninggal


Seringkali aku mendengar cemoohan dari tetangga, yang tidak suka dengan orang yang ikut jamaah Tahlil atau Yasin.
“Opo lho wong NU tahlilan.. Paling sing digoleki yo berkaatt.. Badokan..” (Apa lho orang NU tahlilan.. Paling yang dicari ya berkat.. makanan..)
Kebetulan memang desaku ini terpecah menjadi 2 bagian. Bagian utara yang memang mayoritas keluarga NU, dan selatan adalah jamaah non NU yang konon katanya kalau ada orang non jamaahnya yang sholat di masjidnya mereka harus ngepel tempat orang non jamaahnya itu sholat. Apa sih sebenernya salahnya orang yang membaca Yasin dan Tahlil secara berjamaah? Apakah berdosa orang yang membaca Tahlil dan Yasin? Sebagai umat Islam, sudah seharusnya kita menjunjung tinggi solidaritas. Bersatu untuk kesepahaman, dan menghormati untuk segala perbedaan.

Pernah aku mendengar cerita dari seorang Kiai. Ada seseorang yang mendatangi kiai itu dengan niat (mungkin) untuk berdebat masalah tahlil dan yasin. Orang itu datang dengan jubah putih, celana pendek 3/4 ala rapper, jenggot panjang dan ada tanda gosong (hitam) di jidatnya. Lalu orang itu bertanya kepada kiai.
Tamu : Pak Kiai, ngoten niku tiyang mati ditahlili dalile pundi? (Pak Kiai, membacakan tahlil kepada orang yang sudah mati dalilnya apa?)
Kiai : Aku ngene iki wegah debat. Wong awake dewe iki ora sepaham. Dijelasneo koyok ngopo, ora bakal ketemu. Wong sing wes mati bakal putus amale kejaba telung perkoro.. Wes ngerti to telung perkoro kuwi?? (Aku ini tidak mau berdebat. Kita itu tidak sepaham. Dijelaskan seperti apapun nggak bakal ketemu. Orang yang sudah meninggal itu akan terputus semua amalannya kecuali tiga perkara. Sudah mengerti kan tiga perkara itu??)
Tamu : (Masih penasaran dan tidak puas dengan jawaban Kiai). Sampun pak. Tapi pak Kiai, bapak sebagai pemimpin umat seharusnya meluruskan hal-hal yang tidak sesuai syariah seperti ini. Bagaimana umat kita akan lurus kalau hal-hal semacam ini tidak kita luruskan.
Kiai : (Agak mangkel tapi tetap sabar) Saiki kowe tak takoni, bapak ibumu isih lengkap? (Sekarang aku tanya, bapak ibumu masih lengkap?)
Tamu : Kantun bapak, ibu sampun pejah (Tinggal bapak, ibu sudah meninggal)
Kiai : Dadi ibumu wes mati. Tak dongakne ibumu neng kuburan ditungkaki malaikat..!! (Jadi ibumu sudah meninggal. Aku doakan ibumu di kuburan diinjak-injak malaikat..!!)
Tamu : (Kelihatan marah)
Kiai : Lha kowe kok mangkel? Pandongaku lak ora bakal nyampek nyang ibumu. Dadi yo ora usah dipermasalahne. (Kamu kok marah? Doaku kan tidak akan sampai ke ibumu. Jadi tidak usah dipermasalahkan.)

Wali Songo adalah orang-orang yang berjasa dalam meng-Islam-kan tanah Jawa. Beliau semua hafal Al-Quran. Walaupun hafal Al-Quran, beliau menyampaikan Islam dalam bahasa Arab yang di-Jawa-kan. Beliau tidak menyampaikan Islam dengan dalil-dalil seperti yang disampaikan Ustadz-ustadz yang sekarang ada di televisi. Ustadz-ustadz sekarang menyampaikan Islam dengan bahasa yang susah.
“Menurut Al-Quran surat sekian ayat sekian…..”
“Qola ta’ala…..”
“Menurut hadist sekian…..”
Mungkin ustadz-ustadz itu pengen pamer kalau mereka sudah hafal Al-Quran.

Berbeda dengan ustadz-ustadz jaman sekarang, para Kiai di tanah Jawa walaupun hafal Al-Quran beliau menyampaikan Islam dengan bahasa yang mudah dipahami. Sama seperti Wali Songo yang menyampaikan Islam dengan gending-gending Sluku-sluku bathok, Cublak-cublak suweng, dll. Para Kiai yang mayoritas adalah orang NU menyampaikan Islam dengan tidak banyak berdalil. Kenapa? Karena mohon maaf, yang dihadapi oleh para Kiai ini adalah orang Jawa.

Orang Jawa itu tidak fasih dalam berbahasa Arab. Contoh saja kata-kata berikut dalam bahasa Arab dan pengucapannya oleh orang Jawa.
– dholim jadi lalim
– ridho jadi lilo
– dhuhur jadi luhur
– fardhu jadi perlu
– ramadhan jadi ramelan
– khoirun jadi kirun
– hasbullah jadi kasbolah
– syu’aib jadi songep
– abdul rajab jadi dulrojap
– dzikir “ya hayyu ya qoyyum” jadi “ya kayuku ya kayumu”
– niat sholat subuh “usholi fardho subhi rok’ataini…” jadi “usholi ferdu subeki roke ngateni” (ini kenapa roknya ngateni dibawa-bawa)
– labaikallahuma labaik jadi lama-lama baik

Pernah aku mendengar cerita dari orang tuaku, bahwa Kiai-kiai pada jaman dahulu banyak yang memiliki kesaktian. Walaupun bacaan mereka nggak fasih (rohim jadi rokim, bismilah jadi semilah, ‘alaihim jadi ngalaihim, dll.) tapi mereka memiliki karamah. Menyembuhkan sakit gigi hanya dengan bermodal paku dan palu serta bacaan surat Annas, “alladzi yuwas wisudurinnas minal jinnati warass…”. Hanya dengan bacaan itu, Alhamdulillah gigi yang sakit sembuh. Sungguh luar biasa.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to Tahlil & Yasin untuk Orang yang Sudah Meninggal

  1. H.Mohammad says:

    REINKARNASI DI DALAM AL QUR’AN

    Reinkarnasi berasal dari kata latin re-in-carnis. Re artinya kembali atau pengulangan. In artinya di dalam, Carnis artinya daging. Jadi reinkarnasi artinya kembali menjadi daging, menjelma menjadi daging, dilahirkan kembali menjadi mahluk yang berdaging. Carnivora adalah mahluk pemakan daging.
    Sebagian besar dari umat Islam agaknya tidak mempercayai adanya reinkarnasi ini. Oleh karena itu buku-buku yang membahas reinkarnasi dari sudut ajaran Islam sangat sulit didapat. Akan tetapi bagi mereka yang beragama Hindu, Budha atau mungkin juga ajaran Kong Hu Cu, justru sebaliknya, mereka percaya akan adanya reinkarnasi dalam siklus kehidupan berikutnya. Mungkin kita pernah mendengar atau pernah membaca mengenai kematian Dalai Lama yang bernama Lama Thubten Yeshe, kemudian muncul kembali ber-reinkarnasi pada seorang anak laki-laki yang bernama Osel di negara Spanyol. Konon kabarnya, kedua orang tua si anak tersebut adalah penganut agama Dalai Lama Tibet.
    Bila benar-benar Al Qur’an itu universal serta mencakup semua ajaran agama di dunia, maka sudah seharusnya reinkarnasi ada di dalam Al Qur’an. Seperti halnya kata atom dan Keluaga Berencana, kata reinkarnasi pun tidak tercantum secara nyata di dalam Al Qur’an, namun bila kita pelajari secara seksama ternyata ayat-ayat Al Qur’an untuk reinkarnasi cukup banyak, diantaranya :

    Mengapa kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, Dia menghidupkanmu, kemudian mematikanmu, menghidupkanmu kembali, selanjutnya kepada-Nya kamu dikembalikan ( AL BAQARAH 2: 28 )
    Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati agar kamu bersyukur
    ( AL BAQARAH 2 : 56 )

    Dan apakah orang yang sudah mati kemudian Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat ke luar dari padanya ….
    ( AL-AN’AM 6 : 122 )

    Allah berfirman : “ Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati dan di bumi itu ( pula ) kamu akan dibangkitkan ( AL-A’RAF 7 : 25 ).

    Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan Singgasana-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah diantara kamu yang lebih baik amalnya dan jika kamu berkata : sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati niscaya orang-orang kafir itu akan berkata : ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata ( HUD 11 : 7 ).

    Jika ada yang kamu herankan, maka yang patut diherankan adalah ucapan mereka : “bila kami telah menjadi tanah, apakah kami sungguh akan dikembalikan menjadi mahluk yang baru?” Begitulah orang-orang yang mengingkari Tuhannya …
    ( AR RAD 13 : 5 )

    Darinya ( tanah ) Kami ciptakan kamu, kepadanya Kami kembalikan kamu dan darinya ( tanah ) Kami keluarkan kamu untuk kedua kalinya ( THAHA 20 : 55 )

    Siapakah yang akan menghidupkan kembali tulang belulang yang telah hancur luluh itu ??? Katakanlah : yang menghidupkannya ialah yang menjadikannya pertama kali dan Dia Maha Mengetahui segala makhluk ( YAASSIIN 36 : 78-79 ).

    Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi dan tidak merasa payah menciptakannya, berkuasa menghidupkan orang-orang mati, sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segalanya ( AL AHQAF 46 : 33 )

    Kami menentukan kematian diantara kamu dan Kami berkuasa merubah rupa kamu dan menciptakan ( kembali ) dalam ( bentuk ) yang tidak kamu ketahui
    ( AL WAQI’AH 56 : 60-61 )

    Hai manusia, apa yang memperdayakan kamu terhadap Tuhan-mu Yang Maha Pemurah, yang menciptakan kamu, lalu membentuk kamu dalam bentuk yang dikehendaki-Nya, Dia membentuk tubuhmu ( AL INFITHAR 82 : 6-8 ).

    … Lalu kami berfirman kepada mereka : Jadilah kamu kera !!!
    ( AL BAQARAH 2 : 65 )

    … Yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka ( ada ) yang dijadikan kera dan babi … ( AL MA’IDAH 5 : 60 )

    Tatkala mereka melanggar apa yang dilarang baginya, Kami berfirman kepadanya : Jadilah kamu kera yang hina ( AL A’RAF 7 : 166 )

    Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan kami akan menghimpunnya pada hari kebangkitan dalam keadaan buta ( THAHA 20 : 124 )

    Barang siapa berbuat baik, laki-laki atau perempuan, dan ia beriman, maka pasti akan kami hidupkan ( dilahirkan kembali ) dengan kehidupan yang baik dan Kami akan memberinya pahala sesuai dengan apa yang telah mereka lakukan
    ( AN NAHL 16 : 97 )

    Sebagaimana kata Rosulullah bahwa Al Qur’an itu mengandung makna lahiriyah dan bathiniah. Di Dalam Al Qur’an ada makna yang tersurat dan makna yang tersirat, serta banyak kata-kata kiasan atau metapora. Oleh karena itu pengertian neraka dan surga, azab kubur dan pahala dari Allah mungkin juga mengandung makna bathiniah, mengandung arti kiasan.

    Demikianlah perumpamaan-perumpamaan yang Kami buat bagi manusia, akan tetapi yang memahaminya hanya orang-orang yang berilmu
    ( AL ANKABUT 29 : 43 ).

    Setiap manusia yang hidup di dunia, ada jasmaninya, ada nafsunya dan ada ruhnya. Bila ketiga-tiganya ada, manusia bisa merasakan kesakitan, kepanasan, kedinginan, kelaparan dan kehausan. Dalam keadaan koma, nafsunya tidak ada maka jasmani tidak akan bisa merasakan apa-apa lagi. Apalagi dalam keadaan mati, nafsu dan ruhnya sudah tidak ada lagi. Dengan adanya reinkarnasi ini, masuk akal bila yang dimaksud dengan neraka adalah penghidupan yang sempit dan azab yang pedih di dunia sedangkan yang dimaksud surga adalah kehidupan yang baik di dunia. Karena yang ada di surga pun hanya kesenangan fisik semata, air yang mengalir, makanan, minuman, kasur yang empuk, serta bidadari.
    Bila kita mati, ruh akan kembali ke asalnya yaitu Dzat Allah. Karena ruh berasal dari Dzat Allah. Ruh merupakan essensi dari Dzat Allah, Dzat Yang Maha Suci. Berarti ruh tetap suci tidak akan kena polusi duniawi dan tetap abadi tidak pernah mati. Kematian hanya berlaku untuk jasmani di dunia.

    Maka apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya, dan Aku tiupkan Ruh-Ku kedalamnya … ( AL HIJR 15 : 29 dan SHAAD 38 : 72 )

    Dan janganlah kamu katakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, mati; bahkan mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya
    ( AL BAQARAH 2 : 154 )
    Jangan engkau mengira, mereka yang meninggal di jalan Allah itu mati, tidak.. Mereka tetap hidup di sisi Tuhan-nya dan mendapat rizki ( ALI IMRAN 3 : 169 )

    Mereka tidak merasakan kematian di dalamnya ( akhirat ), kecuali kematian pertama ( di dunia )… ( AD DUKHAAN 44 : 56 ).

    Ruh tidak pernah dituntut untuk diminta tanggung jawabnya, karena tetap suci Namun jasmani yaitu mata telinga dan hati itulah yang akan diminta tanggung jawabnya. Di dalam hati ada nafsu amarah, luwamah, sofiyah dan mutmainah. Dari nafsu yang empat ini yang dipanggil Allah hanya nafsu mutmainahnya saja, disertai dengan “ucapan selamat” dari Allah… Pertanyaannya adalah : Apakah yang menanggung azab Allah itu adalah nafsu amarah, luwamah dan sofiyahnya ???
    Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati ( fuad ) agar kamu bersyukur
    ( AN NAHL 16 : 78 ).
    Dia-lah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati ( fuad ). Namun sedikit saja kamu bersyukur ( AL MU’MINUN 23 : 78 )
    Janganlah ikuti apa yang tiada kamu ketahui, sungguh, pendengaran, penglihatan dan hati ( fuad ) masing-masing akan dimintai pertanggungjawabannya.
    ( AL ISRA 17 : 36 )

    Janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah ( SHAAD 38 : 26 )

    Lidah tangan dan kaki mereka menjadi saksi terhadap apa yang mereka kerjakan.
    ( AN NUR 24 : 24 )
    Berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan (YAASSIIN 36 : 65 )
    Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwaya dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya ( ASY-SYAM 91 : 7-9 )

    Wahai nafsu mutmainah ( jiwa yang tenang ), datanglah kepada Tuhan-mu dengan rasa suka cita dan penuh keridhoan, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah kedalam surga-Ku ( AL FAJR 89 : 27 – 30 )

    Ucapan selamat dari Tuhan. Salaamun qaulam mirobbirahiim
    ( YAASSIIN 36 : 58 )

    Secara logika bila yang mendapat azab dari Allah itu adalah amarah, luwamah dan sofiyahnya, bagaimana dia bisa bicara dan merasakan kepedihan azab bila jasmaninya sudah hancur menjadi tanah ??? Oleh karena itu melalui reinkarnasi, dia dihidupkan kembali di dalam penghidupan yang sempit, agar bisa merasakan betapa pedihnya azab Allah. Dikehidupan yang baru, mereka yang menerima azab Allah bila mereka bertobat dan kembali ke jalan Allah akan mendapat remisi atau grasi dari Allah, karena Allah Maha Pengampun, Maha Pengasih serta Maha Penyayang. Namun sebaliknya orang yang beramal soleh, bila dia belum menerima pahala dikehidupan sebelumnya, maka dia dihidupkan kembali di dalam penghidupan yang baik sebagai pahala dari Allah sesuai dengan amal solehnya. Dikehidupan yang baru ini, mereka tetap akan mendapat ujian dari Allah dan mungkin juga dikehidupan yang baru ini, dia tidak lulus. karena kehidupan dunia hanya kesenangan yang memperdayakan, akibat adanya nafsu…

    Setiap yang berjiwa akan merasakan kematian dan pada hari kebangkitan akan dibayarkan kepada kamu ganjaranmu, dan barang siapa dipindahkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sesungguhnya ia memperoleh kemenangan dan kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdayakan ( ALI IMRAN 3 : 185 ).

    Surat ALI IMRAN 3 : 185 ini, tanpa kita sadari menyatakan adanya reinkarnasi, hari kebangkitan setelah kematian. Setelah dibangkitkan, kemudian diberi ganjaran sesuai dengan amal perbuatannya masing-masing. Neraka adalah kehidupan yang sempit di dunia dan surga adalah kehidupan yang menyenangkan namun juga sebagai ujian agar manusia bisa tetap sadar dan bisa mengendalikan hawa nafsunya. Bagi mereka yang mendapatkan azab Allah hendaknya jangan berputus asa atas rahmat Allah Yang Maha Adil, karena pintu taubat senantiasa terbuka. Semua dosa ada ampunannya, kecuali dosa syirik. Reinkarnasi sebagai bukti Allah Maha Adil. Allah lebih mendahulukan rahmat dan ampunan-Nya dari pada azab-Nya…
    Wahai hamba-hambaku yang telah melampaui batas terhadap diri sendiri, janganlah kamu berputus asa atas rahmat Allah yang akan mengampuni segala dosa, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
    ( AZ-ZUMAR 53 ).

    Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, tetapi Dia mengampuni dosa-dosa selain itu terhadap orang-orang yang diridoinya ( AN NISAA 4 : 48 ).

    Kami akan memasang timbangan yang adil untuk hari kebangkitan, sehingga tidak ada yang rugi sedikitpun, biarpun amalan itu hanya seberat biji sawi, Kami akan memperlihatkannya dan Kami cukup sebagai penghisab ( AL ANBIYAA 21 : 47 ).

    Kepada-Nya-lah kamu semua akan kembali, janji Allah Maha Benar, Dia-lah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya, supaya dia dapat memberi pahala kepada mereka yang beriman dan berbuat kebaikan secara adil, bagi mereka yg tidak percaya disediakan minuman air mendidih dan siksa yang pedih dan menyakitkan… ( YUNUS 10 : 4 )

    Orang-orang kafir senantiasa tidak ingat akan akibat kejahatannya, sehingga bila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia menyesal dan berkata : Ya Tuhan-ku, hidupkanlah aku kembali, agar aku dapat beramal saleh dalam perkara yang aku lalaikan. Tidak !!! Itu hanya alasan belaka, dibelakang mereka ada suatu tabir yang menghalangi mereka, sampai hari mereka dibangkitkan
    ( AL MU’MINUN 23 : 99-100 ).

    Mereka menetap di dalamnya, tidak akan diringankan baginya siksaan, dan tidak pula ditunda, kecuali mereka yang kemudian bertaubat dan berbuat baik, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
    ( ALI IMRAN 3 : 88 – 89 ).

    Harus kita ingat baik-baik bahwa pahala dan siksa itu adalah atas apa yang kita lakukan di dunia. Demikian juga masalah taubat, itupun dilakukan di dunia. Dengan demikian, Surat ALI IMRAN 3 : 88 – 99 ini pun sangat mungkin bagi mereka yang mendapat azab Allah di dunia … kemudian bertaubat …

    Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar dan memberi rizki dari arah yang tidak diduga … Allah akan memberikan kecukupan … akan dimudahkan segala urusannya … dihapus segala kesalahannya …serta dilipat gandakan pahalanya ( AT THOLAQ 65 : 2-3-4-5 ).

    Ingatlah Allah sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-NYA di waktu pagi dan petang, Dia akan mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada Cahaya yang terang ( AL AHZAB 33 : 41-43 )

    Menurut para sesepuh, sesungguhnya jasmani merupakan penjara bagi setiap ruh. Dunia merupakan tempat pembelajaran dari para ruh, sampai mencapai tingkat kematangan yang sempurna, sehingga tidak harus berenkarnasi lagi.
    Surat ALI IMRAN 3 : 88 – 89, menjelaskan bahwa Allah masih memberi kesempatan kepada Ruh, karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sebagaimana halnya narapidana yang berbuat baik selama di dalam penjara, kemudian pemerintah memberikan grasi atau remisi kepadanya. Dengan demikian, siklus reinkarnasi ini, merupakan bukti bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Adil, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Oleh karena itu kata “tidak “ di dalam Surat AL MU’MINUN 23 : 99-100 agaknya bersifat sementara saja. Berapa lama di alam sana sebelum menjalani reinkarnasi kita tidak tahu … demikian kata Semedi.
    Reinkarnasi ini tidak hanya satu kali namun berkali-kali bahkan jutaan kali sampai ruh mencapai kesempurnaan. Menurut Semedi di dalam Al Qur’an siklus reinkarnasi ini digambarkan bagaikan siklus malam dan siang, sedangkan hari kebangkitan digambarkan sebagai musim semi yang indah.

    Kau masukkan malam ke dalam siang dan Kau masukkan siang ke dalam malam, Kau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Kau keluarkan yang mati dari yang hidup, Kau beri rizki kepada siapa yang kau kehendaki tanpa batas
    (ALI IMRAN 3 : 27).

    Katakanlah : Siapa yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa ( menciptakan ) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan ??? Mereka berkata Allah, maka katakanlah : Mengapa kamu tidak bertakwa ??? ( YUNUS 10 : 31 ).

    Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya, sehingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu kami turunkan hujan di daerah itu, maka kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran ( AL-A’RAF 7 : 57 )

    Ia mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan Ia mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan Ia menghidupkan kembali bumi setelah kematiannya, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (AR RUUM 30 : 19).

    Dan Allah, Dia-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu ke suatu negeri yang mati, lalu kami hidupkan bumi yang telah mati dengan hujan itu, demikianlah kebangkitan itu
    ( AL-FAATHIR 35 : 9 ).

    Menurut Semedi : Dari Surat AL-A’RAF 7 : 57, AR-RUUM 30 : 19 dan AL-FAATHIR 35 : 9 tersebut bisa kita bayangkan bahwa hari kebangkitan adalah suatu musim semi yang indah penuh keceriaan dan kedamaian. Hari kebangkitan yang sama sekali tidak menggambarkan sesuatu yang sangat mengerikan, tidak menggambarkan suatu kehancuran total seperti dongeng yang selama ini pernah kita dengar sebelumnya… Kata “qiyamat” pun arti harfiahnya adalah berdiri, bangkit, namun kenapa diterjemahkan menjadi kehancuran total ??? Demikian pula dengan kata “ajal “ yang arti harfiahnya adalah batas waktu, namun sering ditafsirkan sebagai kematian. Sebagai contohnya, mari kita perhatikan Surat AL AN’AAM 6 : 2 berikut ini :
    Dialah Yang Menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukan ajal ( kematianmu ), dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan ( untuk berbangkit ) yang ada pada sisi-Nya ( yang Dia sendiri-lah mengetahuinya ), kemudian kamu masih ragu-ragu ( tentang berbangkit itu )

    Menurut Semedi Surat AL AN’AAM 6 : 2 seharusnya ditafsirkan sbb :
    Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menetapkan bagimu suatu masa ( waktu ) dan suatu masa ( lagi ) ditentukan di sisi-Nya, kemudian kamu ragukan ( AL AN’AAM 6 : 2 )

    Demikian juga, bila kita perhatikan Surat AL QIYAAMAH, ternyata apa yang dikatakan Semedi benar bahwa : Isi dari ayat-ayat Surat AL QIYAAMAH tidak menyinggung masalah kehancuran total sebagaimana yang kita bayangkan selama ini. Surat Al Qiyaamah menceritakan keraguan orang-orang kafir atau orang-orang fasik akan hari kebangkitan dan rasa takut mereka saat menghadapai sakaratul maut. Pada saat menjelang maut itu Allah memutar ulang rekaman perjalanan hidupnya dan akhirnya dia sendiri yang menjadi saksi atas dirinya sendiri, karena di dalam diri manusia ada Yang Maha Melihat. Hal ini berbeda keadaannya bagi orang-orang mukmin, wajah mereka pada saat itu berseri-seri, karena melihat wajah Tuhan-nya, mereka mendapat rahmat Allah, mereka sangat meyakini pertemuan dengan Tuhan-nya… dan mereka meyakini adanya hari kebangkitan atau reinkarnasi … Karena Allah berkuasa menghidupkan orang mati.
    Mari kita perhatikan cuplikan beberapa ayat dari surat Al Qiyaamah :

    Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan ( kembali ) tulang- belulangnya . Bukan demikian, sesungguhnya Kami berkuasa menyusun kembali jari-jemarinya dengan sempurna ( AL QIYAAMAH 75 : 3-4 )
    Ia bertanya : Bilakah hari kiamat itu ?? ( AL QIYAAMAH 75 : 6 )
    Pada hari itu diberitahukan kepada manusia apa-apa yang telah dikerjakannya dan apa-apa yang dilalaikannya. Di dalam diri manusia ada Yang Maha Melihat
    ( AL QIYAAMAH 75 13-14 )
    Pada hari itu wajah mereka ( yang beriman ) berseri-seri, karena melihat wajah Tuhan-nya. Wajah-wajah ( orang kafir ) muram, karena akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang dasyat ( AL QIYAAMAH 75 : 22-23-24-25 )
    Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan ( kematian )
    ( AL QIYAAMAH 75 : 28 )
    Kepada Tuhan-mu lah pada hari itu kamu digiring ( AL QIYAAMAH 75 : 30 )
    Apakah manusia mengira bahwa dia akan dibiarkan begitu saja ???
    ( AL QIYAAMAH 75 : 36 )
    Bukankah ( Allah ) berkuasa menghidupkan orang mati ??
    ( AL QIYAAMAH 75 : 40 )

    PENELITIAN REINKARNASI

    Penelitian reinkarnasi oleh para ahli hipnoterapi pada penderita-penderita kejiwaan diawali tanpa kesengajaan. Penderita kejiwaan dihipnotis dan diperintahkan untuk menceriterakan masa lalunya agar terungkap latar belakang penderitaannya. Tanpa disengaja, karena pengaruh daya hinotis yang begitu kuat, sampai kebablasan ke kehidupan masa lalunya yang jauh sebelum dia dilahirkan. Peristiwa ini merupakan titik tolak penelitian reinkarnasi ruh melalui hipnotisme. Sulit untuk dipercaya ( AL AN’AAM 6 : 111 ) namun subhanallah … itulah bukti kebenaran Al Qur’an …

    Kalnel Ruka adalah orang yang pertama kali berhasil mengembalikan keadaan seseorang ke kehidupan masa lalunya sampai melampaui kehidupan yang sekarang. Penelitian pun berlanjut, sehingga akhirnya Ruka menyimpulkan bahwa ada kehidupan ruh sebelumnya, bahwa Ruh manusia mengalami kehidupan dan kematian berkali-kali melalui jasad yang berbeda-beda, sampai akhirnya mencapai kesempurnaan dan memperoleh kebebasan.

    Michael Newton, ahli hipnoterapi, selama 10 tahun melakukan studi kasus perjalanan ruh pada penderita-penderita yang dihipnotisnya. Newton pun menyimpulkan bahwa saat kematian, Ruh merasa bahagia karena terbebas dari beban. ruh menjelaskan bahwa dirinya berupa cahaya yang dijemput oleh cahaya dan menuju kepada Cahaya Yang Sangat Kuat.
    Menurut Newton semua Ruh memiliki status ilahi yang sama, karena berasal dari essensi ilahi yang sama, yaitu dari Ruh Yang Maha Tinggi. Ruh ada yang muda ada yang tua dan yang lebih tua lagi jarang ber-reinkarnasi, bahkan tidak ber-reinkarnasi lagi bila sudah mencapai kematangan yang sempurna.

    …Cahaya di atas Cahaya, Tuhan akan membimbing dengan Cahaya-Nya kepada Cahaya-Nya bagi siapa yang Dia kehendaki ( AN NUUR 24 : 35 )
    Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat ( AL INSYIQAAQ 84 :19 )

    Dunia sebagai tempat pembelajaran bagi para Ruh. Setiap ruh punya kelompok, ada kelompok kecil, kelompok besar sampai kluster. Setiap kelompok ada Ruh yang lebih tua sebagai pembimbingnya. Ruh pembimbing bisa lebih dari satu dan bertingkat-tingkat. Kita bisa berkomunikasi dengan ruh pembimbing melalui meditasi … dzikir … Banyak ruh pada reinkarnasi berikutnya memilih untuk mendiami tempat yang pernah mereka huni sebelumnya. Ruh anak-anak yang meninggal lebih suka kembali ke lingkungan orang tuanya. Selain ruh berkelompok, ada juga ruh yang menghuni lebih dari satu tubuh sekaligus. Hal ini sesuai dengan Firman Allah bahwa ruh berkelompok dan ruh bisa memecah diri :
    Hai manusia bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari jiwa yang satu ( min nafsiw wahidatin ) dan dari padanya, Allah menciptakan pasangannya … ( AN NISAA 4 : 1 )

    Wahai nafsu mutmainah ( jiwa yang tenang ), datanglah kepada Tuhan-mu dengan rasa suka cita dan penuh keridhoan, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah kedalam surga-Ku ( AL FAJR 89 : 27 – 30 )
    Ucapan selamat dari Tuhan. Salaamun qaulam mirobbirahiim
    ( YAASSIIN 36 : 58 )

    Surga Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama mereka yang saleh diantara orang tua mereka, istri-istri mereka dan keturunan mereka ( AR-RAD 13 : 23 )

    Dan orang-orang yang beriman, lalu anak cucu mereka mengikuti dengan iman, Kami susulkan keturunan mereka pada mereka dan Kami tidak mengurangi amal mereka sedikitpun ( AYH-THUUR 52 : 23 )

    Kumpulkanlah mereka yang berbuat dzolim bersama istri-istri mereka dan apa-apa yang mereka sembah selain Allah, dan tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka dan tahanlah mereka, karena mereka harus ditanyai ( ASH-SHAFFAAT 37 : 22 – 24 ).

    Dan demi Tuhan-mu, Kami akan menanyai mereka semuanya tentang apa yang telah mereka kerjakan ( AL HIJR 15 : 92 – 93 )

    Sungguh Kami akan menanyai umat yang menerima Rasul yang diutus kepada mereka dan kami juga akan menanyai Rasul-Rasul itu ( AL A’RAAF 7 : 5 )

    Pada hari Tuhan memanggil mereka dan berfirman : Apakah jawaban yang kamu berikan kepada utusan-utusan itu ( AL QASHASH 28 : 65 )

  2. anton says:

    cerita tersebut sudah banyak tp cm jarene,jarene dan jarene..drpd bikin artikel sprt ini mending bikin artikel yg bermanfaat dan yg bs menjaga kerukunan umat muslim.

  3. SUMARNO says:

    Alhamdulillah, selama ini dilingkungan saya berjalan melaksanakan tahlil dan yassin, jika dicermati oleh diri saya pribadi sungguh sangat tepat dimana rumah duka menjadi tidak sepi.
    Tapi jika tak ada sangat sepi, sedang makan minum sebagai suguhan mudah mudahan sebagai sodakoh

  4. Reina Sinkha says:

    Mantap artikelnya, semoga berkah buat yang menulis, jika saudaraku ingin nambah wawasam keilmuan silahkan baca “SUDAH TAHUKAN PENYUSUN BACAAN TAHLI, INI JAWABANNYA” ada di duniaartikel16

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s