Arogansi Ibu-ibu PKK Migas


Hari ini kantorku menjadi ramai, bukan karena habisnya masa libur lebaran, tapi lebih karena banyaknya wartawan yang datang untuk meliput kasus dugaan suap ibu-ibu PKK Migas, sebut saja bunga. Mulai dari wartawan lokal sampai wartawan dari Televisi Nasional ikut cangkrukan di lobi belakang gedung Rumah Mulyono. Kebetulan gedung tempatku bekerja, Rumah Mulyono ini selain dihuni oleh perusahaan tempatku bekerja juga dihuni perusahaan lain seperti Ikan+ dan PKK Migas yang sekarang sudah pindah ke gedung sebelah namun masih satu management dengan gedung Rumah Mulyono.

Pagi hari tadi, aku sempat membaca berita penangkapan ketua PKK Migas di salah satu situs berita nasional menit.com. Situs ini memang sangat cepat menghadirkan berita-berita hot, hanya dalam hitungan menit, berita paling hot di negeri ini sudah bisa anda baca di situs tersebut. Namun, kebenaran akan faktanya jangan terlalu dipercaya. Sudah bukan rahasia lagi kalau situs menit.com menghadirkan berita yang cepat namun kebenarannya patut dipertanyakan. Memang secara hukum, kecepatan selalu berbanding terbalik dengan kualitas.

Berita yang menghebohkan terkait dengan penangkapan ketua PKK Migas ini mungkin sedikit membahagiakan buat temen kantorku, sebut saja Bang Jek. Yah, dia masih menaruh dendam pribadi lantaran kasus lift di gedung Rumah Siti (bukan gedung Siti Aisyah ya!!).

Pada suatu pagi, Bang Jek hendak meeting dengan rekan kerja IT. Kebetulan memang bagian IT di perusahaan tempatku bekerja berbeda gedung dengan yang lain. IT di gedung Rumah Siti sedangkan yang lain menempati Rumah Mulyono. Jadi kalau ada meeting dengan IT, salah satu harus moving dari gedung satu ke gedung yang lain.

Pada pagi itulah insiden itu terjadi. Kantor IT perusahaanku ada di lantai 11 Rumah Siti, sedangkan kantor PKK Migas di lantai 9. Di Rumah Siti memang hanya disediakan 4 lift yang kesemuanya mengangkut penumpang mulai dari lantai G sampai 11. Bang Jek menekan tombol lift untuk naik ke lantai 11, kebetulan ibu-ibu PKK Migas baru pindah beberapa hari di Rumah Siti. Ketika mau masuk ke dalam lift, bang Jek dihadang oleh para bodyguard ibu-ibu PKK Migas. Yang membuat kesal adalah, pada saat itu lift masih longgar, namun tidak ada yang boleh masuk selain ibu-ibu PKK. Betapa arogan-nya para petinggi ibu-ibu PKK Migas ini. Bahkan Dirut tempat saya bekerja, tidak se-arogan itu. Siapa saja boleh masuk ke dalam lift berbarengan dengan para petinggi perusahaan terbesar nomor 7 di dunia di bidangnya.

Padahal di Rumah Siti ada seorang anak petinggi di negeri ini. Bahkan ada pasukan khusus yang ditugaskan untuk mengawal orang tersebut. Namun untuk masalah lift ini, tidak sampai mengorbankan kepentingan orang lain yang memiliki hak yang sama untuk mempergunakan fasilitas tersebut.

Yah, semoga dengan semakin tingginya jabatan para pembaca, tidak menjadikan rekan-rekan sebagai orang yang arogan. Tetaplah menjadi orang yang andhap asor. Anda akan tetap dihormati dengan kesantunan anda dalam bermasyarakat.

This entry was posted in Catatan Kehidupan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s