Lambatnya Adopsi Teknologi di Negeri ini


Beberapa waktu yang lalu, aku berkunjung ke negeri tetangga. Negeri yang subur, kaya akan sumber daya alam. Negeri yang mulai berkembang menjadi negeri yang hi-tech (kalau kata pak Habibie). Negeri ini bernama Andalusiana (bukan nama sebenarnya).

Di negeri ini, saya punya teman yang menceritakan lambatnya adopsi teknologi di negeri tersebut. Ada 2 teknologi yang menurut saya mendesak (urgent) untuk segera diimplementasikan. Mari kita bahas satu per satu.

Siaran Televisi Digital
Sebenarnya, sudah beberapa waktu yang lalu teknologi ini diuji coba oleh para pemilik stasiun televisi. Setahun yang lalu, Televisi milik negara yang kita kenal dengan TVRA (Televisi Republik Andalusiana) sudah pernah melakukan trial menggunakan teknologi DVBT (Digital Video Broadcasting Terrestrial). Awal mula digulirkannya teknologi ini, banyak sekali vendor perangkat elektronik yang memasang teknologi ini di perangkat televisi yang mereka jual di negeri ini. Sebut saja samsung, sharp, LG, dan beberapa vendor tv lainnya.

Namun seiring berjalannya waktu, terjadi perubahan susunan pemerintahan. Menteri Komunikasi dan Informasi Andalusiana mengalami pergantian karena adanya reshuffle kabinet. Standard yang sudah diujicobakan diganti dengan standard yang baru, DVBT2. Entah kenapa ada pergantian standard yang baru ini. Apakah karena masalah teknis atau politis saya sendiri juga kurang tahu.

Beberapa bulan berikutnya, pemerintah melakukan trial yang dilakukan oleh TVRA dan satu tambahan stasiun TV swasta dari MCC_MNC group dengan menggunakan standard yang baru yaitu DVBT2. Dengan teknologi ini, satu kanal frekuensi bisa dipakai oleh 12 TV secara bersamaan dengan teknologi multiplexing.

Standard yang baru ini cukup menjanjikan. Beberapa bulan trial, pemerintah sudah meluncurkan regulasi atas teknologi ini. Maka dengan adanya regulasi ini, dilakukanlah tender untuk alokasi frekuensi yang akan digelar untuk DVBT2 ini. Untuk wilayah Jabotabek, ada 4 group yang berhak mendapatkan alokasi frekeunsi, di antaranya adalah MetroTP group, SCTP group, TPOne group, dan BSTP group. Satu lagi group tentu saja untuk TV milik negara TVRA. Sayangnya, satu group yang melakukan trial justru tidak mendapatkan alokasi frekuensi yaitu MCC_MNC group.

Saya sudah cukup senang dengan keputusan ini. Ini artinya sudah ada kejelasan mengenai rollout teknologi penyiaran digital ini. Akhirnya, saya pun memutuskan untuk membeli Set Top Box (Decoder untuk menerima siaran DVBT2).

Beberapa bulan berlalu, awalnya adem ayem saja. Namun akhirnya, ada lagi ketidak jelasan mengenai rollout teknologi ini. Ada kasus gugatan oleh asosiasi penyiaran mengenai keputusan implementasi DVBT2 ini. Dan anehnya gugatan ini dikabulkan. Ini agak sedikit aneh atas dikabulkannya gugatan ini, seperti tidak ada sinergi antara dua lembaga milik pemerintah (dalam hal ini pengadilan dan kominfo). Agak sedikit curiga ada banyak kepentingan yang menunggangi gugatan ini. Yah, hanya para birokrat lah yang tahu. Sebagai rakyat biasa, saya hanya menunggu adanya kejelasan atas implementasi teknologi baru ini.

Long Term Evolution sebagai Teknologi 4G
Melihat letak geografis negara Andalusiana yang berbentuk kepulauan memang sedikit banyak menghalangi pemerataan tingkat kemakmuran. Alhasil, tingkat kesenjangan antara wilayah barat dan timur sangat jauh. Di ibukota negara, teknologi seluler sudah sangat maju. Voice dan SMS sudah menjadi komoditas yang biasa saja dan mulai tergeser oleh Broadband. Apalagi didukung semakin menjamurnya penetrasi smartphone di wilayah barat negara ini.

Namun di sisi lain, di wilayah timur, kebutuhan coverage terutama untuk voice dan SMS masih sangat dibutuhkan. Broadband masih menjadi barang yang mewah di negeri timur ini.

Kapasitas kanal 3G yang dimiliki operator besar sebut saja Telekomseluler sudah sangat kritis. Ibarat jalan raya, jumlah kendaraan semakin bertambah namun tidak diimbangi dengan penambahan infrastruktur jalan yang memadai. Hasilnya, kemacetan terjadi di mana-mana.

Permasalah ini sudah menjadi indikasi bahwa teknologi baru LTE sudah harus segera diimplementasikan. Namun lagi-lagi, terbentur masalah regulasi yang belum ada. Pemerintah terkesan lambat dalam mengadopsi teknologi-teknologi terbaru. Sudah menjadi rahasia umum bahwa untuk mengeluarkan regulasi ini sangat banyak sekali kepentingan yang masuk. Mulai dari kepentingan politis sampai kepentingan bisnis.

Lagi-lagi sebagai masyarakat biasa, saya hanya bisa menunggu percepatan implementasi teknologi baru yang sebenarnya sudah sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Perlu diketahui, di negeri ini adalah salah satu negeri yang penataan frekuensinya amburadul. Banyak tumpang tindih frekuensi antara satu dengan yang lain sehingga banyak terjadi interferensi dalam dunia komunikasi.

Semoga negeri ini lekas berbenah, tak hanya dalam ekonomi, tapi juga teknologi.

with love:)
rangga

This entry was posted in Catatan Kehidupan, Dunia Elektro. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s