Jawa adalah Kunci


Begitulah sebuah kutipan dari rekan kerja saya asal Madiun. Kutipan yang berasal dari seorang tokoh PKI, DN Aidit. Jawa adalah kunci, jika bisa menguasai Jawa, maka kita bisa menguasai Indonesia.

Agaknya kutipan itu memang benar adanya. Katakanlah ada seorang tokoh politik yang ingin mencalonkan diri menjadi Presiden, barang siapa bisa menguasai suara Jawa, bisa dipastikan dia akan memenangkan pemilihan langsung Presiden.

Mungkin contoh di atas terlalu ekstrim, saya ambil contoh saja di suasana kantor saya. Di kantor saya yang berlokasi di Jakarta, bahasa resmi adalah bahasa Indonesia, biasanya digunakan untuk pembukaan rapat (meeting). Sedangkan bahasa sehari-hari yang digunakan adalah bahasa Jawa, bahasa ini digunakan ketika pembahasan masalah ketika meeting. Lima menit pertama menggunakan bahasa Indonesia, selanjutnya menggunakan bahasa Jawa sampai meeting selesai. Paling tidak itu yang selalu saya rasakan ketika meeting dengan rekan-rekan kerja saya. Karena itulah, ada rekan saya yang nyeletuk dengan kata-kata fenomenalnya, “Jawa adalah Kunci”.

jawa

Ngomongin soal bahasa Jawa, saya jadi kangen dengan bahasa jawa dialek Tulungagungan. Menurut Ayu Sutarto, beliau membagi kebudayaan Jawa Timur menjadi 10 wilayah yang terdiri dari 4 wilayah besar yaitu Mataraman, Arekan, Madura Pulau, dan Pandalungan serta 6 wilayah kecil yaitu Jawa Panoragan, Osing, Tengger, Madura Bawean, Madura Kangean, dan Samin (Sedulur Sikep).

Budaya Mataraman sangat mirip dengan budaya Jawa Tengah baik dari segi bahasa maupun sosial. Tulungagung termasuk ke dalam kawasan Mataraman ini, karena itulah, dari segi bahasa, orang Tulungagung sangat mirip dengan orang Jawa Tengah. Lebih halus dari dibandingkan dengan bahasa Arek (Surabaya, Malang, Jombang, Mojokerto, Sidoarjo, dan sekitarnya). Secara general, kalau orang Jawa Timur pasti disebut arek Jawa Timuran. Kalau menurut saya, sebutan ini dikarenakan ibukota Jawa Timur adalah Surabaya yang erat dengan kata arek. Padahal jika dilihat dari jumlah penduduk, penduduk Jawa Timur yang menggunakan kata bocah (mataraman) lebih besar jika dibandingkan dengan arek.

Walaupun Tulungagung memiliki kemiripan dengan Jawa Tengah, namun Tulungagung juga memiliki kata-kata unik yang hanya ditemui di Tulungagung. Contoh :
– peh (ungkapan kekecewaan)
– pih (ungkapan kekecewaan)
– poh (ungkapan kekaguman)
– joh (ungkapan kekesalan)
– panggah (tetap)

Kalimat yang hanya ada di Tulungagung :
– Normal -> Kelasmu kapan ulangan?
– T.Agung -> Mahmu kapan ulangan? (Sejak kapan ulangan di rumah? Kalau orang Jawa Tengah mungkin seperti ini : Nggonmu kapan ulangan?)

Orang Tulungagung terkadang juga jorok :
– Normal -> Aku kebelet ngising.
– T.Agung -> Aku krasa ngising. (krasa lara artine wes lara, krasa luwe artine wes luwe, krasa mumet artine wes mumet, lha lek krasa ngising kan artine wes ngising)

Orang Tulungagung juga suka ribet sendiri :
– Normal -> Sesok acara pondok Romadhon kudu nganggo klambi muslim.
– T.Agung -> Sesok acara pondok Romadhon kudu nggae (nggawe kalau orang Jateng) klambi muslim. (ribet banget kan, harus membuat baju muslim dulu?)

Yah, tapi itulah Tulungagung. Selalu saja bisa membuatku kangen dengan dialek-dialeknya. Mari kita lestarikan bahasa Jawa ke anak cucu kita. Kalau punya anak, ajarilah bahasa Jawa, jangan bahasa Indonesia atau bahkan bahasa Inggris. Bahasa Indonesia tidak perlu kita ajarkan karena sudah PASTI bisa. Mengapa? Karena bahasa Indonesia adalah bahasa pengantar yang selalu dituturkan di manapun kita berada, sekolah, instansi pemerintah, film, dll. Bahasa Inggris? Nggak perlu diajarkan, kita hidup di Indonesia yang bahasa resminya adalah Indonesia. Bahasa ini perlu kita pelajari kalau kita sudah dewasa, terkadang saat kita dewasa pun kita tidak perlu mempelajarinya. Yah, mungkin pendapat saya keliru, tapi ini kan menurut saya. Kalau nggak mau nurut ya nggak papa. Hahaha.

This entry was posted in Catatan Kehidupan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s