Gagal Ganti Smartphone!


Jadi ceritanya, saya punya smartphone Sony Xperia ZL. Smartphone yang sudah cukup tua, usianya sudah 3 tahun sejak tulisan ini diposting.

Smartphone Xperia ZL memiliki kelebihan yang sangat sulit saya tinggalkan. Di antara kelebihan yang saya sukai dari Xperia ZL di antaranya adalah.

  • Dia memiliki feature infraRed Beam yang secara aplikasi bisa digunakan sebagai remote TV di hampir semua jenis TV. Feature remote TV yang mulai saya perkenalkan di tempat kerja ini mulai banyak ditemukan di smartphone brand lain.
  • Layar 5 inch dan margin layar dengan tepi handphone yang sangat tipis menjadikannya nyaman dilihat dan digenggam. Layar 5 inch sangat pas (tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil) untuk ukuran layar smartphone layar sentuh. Margin yang tipis antara layar dengan tepi body menjadikannya lebih ramping dan nyaman untuk digenggam.
  • Prosesor quad core 1.5GHz, RAM 2GB dan ROM 16GB mampu bertahan hingga 3 tahun bahkan dengan serangan aplikasi-aplikasi baru yang menuntut spesifikasi yang tinggi. Sebelumnya saya pernah memakai Samsung Galaxy Note edisi pertama, sayangnya smartphone ini hanya bertahan setahun dan habis dihajar aplikasi-aplikasi baru yang menuntut spesifikasi Prosesor dan RAM yang besar.
  • Pembaharuan sistem operasi terbaru dari Sony. Ini yang tidak akan ditemukan di Samsung. Walaupun Xperia ZL bukan flagship dari produk Sony namun untuk pembaruan sistem operasi, Xperia ZL didukung penuh, setidaknya pada saat tulisan ini diposting sudah didukung Android Versi 5.1 (Lolipop).
  • Brand Sony gitu loh. Sejak pertama kali membeli handphone, brand Sony sudah melekat di hati. Waktu itu di tahun 2005, handphone pertama saya adalah Sony Ericsson K300i. Dengan harga yang sama dengan handphone Nokia (pada saat itu, Nokia adalah brand nomor 1 untuk handphone), Sony Ericsson sudah memiliki fitur yang jauh lebih unggul dibandingkan dengan Nokia. Apa saja? Ada kamera dengan resolusi paling tinggi pada saat itu yaitu VGA (640×480), pemutar MP3 sekaligus bisa dijadikan ringtone (Nokia masih polyphonic dan wav), game JAVA, internet GPRS, dan sudah support multitasking.

Sayangnya, Sony Ericsson yang pernah menjadi brand nomor 2 di Indonesia harus jatuh bersamaan dengan Nokia pasca lahirnya smartphone berbasis Android. Service center Sony bisa dikatakan salah satu yang terburuk di Indonesia. Bayangkan saja, saya ganti baterai saja harus menginapkan smartphone saya di Sony Center selama 3 bulan. Itupun bisa keluar setelah saya menulis keluhan surat pembaca di Kompas dan Detik. Selain Service Center, permasalahan dari smartphone Sony adalah daya tahan baterai. Ini adalah kali kedua smartphone saya bermasalah dengan baterai. Kali pertama, permasalahan baterai langsung saya bawa ke Sony Center karena masih garansi dari Sony. Untuk yang kedua ini, permasalahan baterai muncul kembali. Awalnya smartphone overheat bahkan saat kondisi idle, stamina mode, ultra stamina mode, dan internet off.

Saya sudah mencoba untuk mencari aplikasi apa saja yang mengkonsumsi power paling banyak tapi hasilnya sia-sia. Tidak ada statistik komprehensif yang bisa dijadikan evidence. Usaha untuk mematikan internet baik mobile maupun wifi juga tidak membuahkan hasil. Tetap saja smartphone overheat dan battery drain issue masih terjadi.

Biasanya jika terjadi kondisi seperti ini, kemungkinan besar masalahnya ada di hardware. Mungkin baterai sudah kembung dan tidak bisa dipakai lagi. Akhirnya saya coba bongkar Xperia ZL saya karena sudah habis garansinya. Jadi tidak ada beban. Pembongkaran dilakukan karena Xperia ZL adalah type Unibody jadi untuk melepas battery harus membongkar body. Setelah dibongkar ternyata battery masih bagus secara fisik (kalau secara efisiensi belum dites karena tidak ada alat untuk mengetahui efisiensi battery). Akhirnya smartphone saya pasang kembali dan ternyata tidak bisa dinyalakan. Di-charge juga tidak bisa. Hmm.. Sepertinya memang saya harus ganti handphone.

Tapi karena saya terlalu sayang dengan Xperia ZL ini, saya coba bongkar kembali dan ternyata ada konektor yang belum terpasang dengan sempurna. Jadi kalau kamu membuka Xperia ZL, tipenya modular. Dari depan ada modul sensor screen kemudian di bawahnya ada modul kamera (bagian atas), battery, dan modul utama ponsel di bagian bawahnya. Setelah itu saya coba nyalakan kembali tapi ternyata tetap tidak bisa menyala. Akhirnya saya coba tombol reset, eh ternyata masih bisa nyala. GAGAL GANTI HANDPHONE deh sepertinya. Tapi permasalahan battery masih muncul lho.

Strategi selanjutnya adalah bertanya kepada orang-orang yang lebih ahli. Di internet tentunya. Ternyata mereka menyarankan untuk mematikan aplikasi Google Play Services. Caranya dengan masuk ke Setting >> Apps >> Google Play Services kemudian Uninstall Update dan Disable jika memungkinkan. Kemudian ada option lain yang minta untuk dimatikan yaitu Administrator Setting. Saya coba matikan semuanya dan Alhamdulillah, Xperia ZL saya tidak overheat lagi. Paling tidak untuk saat ini, semoga bisa bertahan lebih lama lagi.

This entry was posted in Ilmiah, Ulasan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s