DKI-1, Posisi Penting Setelah RI-1


Tahun depan adalah moment penting untuk Jakarta karena akan ada pesta rakyat untuk memilih pemimpin Jakarta untuk 5 tahun ke depan. Tentunya, posisi DKI-1 diperebutkan oleh banyak orang mengingat posisi ini cukup strategis terutama untuk maju ke jenjang yang lebih tinggi. Entah itu untuk mengisi jabatan eksekutif seperti kementrian maupun lembaga lain seperti yudikatif dan legislatif.

Hadirnya incumbent yang didukung hanya separuh warga tentu saja membuat perang opini bermunculan di masyarakat. Ini tak ubahnya peristiwa penting yang terjadi di Indonesia kala Pilpres 2014 silam. Dua kandidat dengan pendukungnya masing-masing, saling serang dengan opini masing-masing.

Agaknya kejadian yang sama akan terulang kembali di Pilkada DKI 2017 nanti. Sekarang pun, pro kontra sudah mulai terjadi antara pro-incumbent dan kontra-incumbent. Sayangnya kubu kontra-incumbent berada di posisi yang sulit pasalnya belum ada calon kuat yang namanya bisa digadang-gadang untuk menjegal calon incumbent.

Posisi incumbent dihuni oleh Basuki yang mana sebenarnya adalah wakil gubernur yang naik menggantikan gubernur yang promosi ke level yang lebih tinggi. Kondisi saat ini, calon incumbent memiliki elektabilitas yang cukup tinggi berdasarkan survey yang dilakukan beberapa media. Sayangnya banyak berita miring yang menimpa calon incumbent seperti kasus korupsi, penggusuran, kasus suap, dan beberapa sikap tak patut yang melanggar norma kesopanan.

Awalnya ada 3 nama besar yang agaknya mampu menjegal calon incumbent. Mereka adalah Walikota Bandung Ridwan Kamil, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, dan Walikota Surabaya Tri Risma. Dua kandidat gugur paska pertemuan mereka dengan sang penguasa yaitu Ridwan Kamil dan Ganjar Pranowo.

Isu tak sedap muncul dengan tagline “Mengapa harus diadu jika sama-sama bisa mengabdi?”. Tagline yang sebenarnya tidak sejalan dengan semangat Pilkada. Pilkada ada untuk mengadu calon-calon pemimpin terbaik untuk mendapatkan yang terbaik dari yang terbaik. Jika memang mereka tak layak diadu, ganti saja sistem Pilkada dengan penunjukan Kepala Daerah layaknya sistem pemilihan era Orde Baru. Yah, mungkin itu hanyalah tagline dari mereka yang takut gagal menghadapi lawan yang lebih kuat dan lebih baik.

dki-1

Lebih penting dari itu, strategisnya Jakarta sebagai pusat ekonomi dan pemerintahan RI, Jakarta harus dipimpin oleh orang-orang yang kompeten. Jadi sudah selayaknya orang-orang terbaik seperti Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo, dan Risma untuk bersaing menduduki kursi DKI-1. Kenapa warga Surabaya, Bandung, dan Jawa Tengah harus takut ditinggalkan pemimpinnya? Toh cepat atau lambat, mereka juga akan diganti sesuai UU yang baru yang mengharuskan Kepala Daerah untuk menjabat maksimal dua kali periode. Atau jika mereka menganggap Basuki adalah pemimpin yang layak, tukar saja Basuki menjadi Walikota Surabaya misalnya. Saya yakin mereka tidak akan bersedia jika mendapatkan pemimpin yang tidak mengindahkan norma-norma kesopanan, hal yang sama juga dirasakan oleh warga di Jakarta.

Jakarta berubah paska kepimpinan Basuki. Itu adalah sisi positif dari Basuki. Banyak perubahan yang terjadi di Jakarta. Macet berkurang? Tidak juga, bahkan semakin parah kalau saya lihat. Efek dari beberapa kebijakan yang belum ada hasilnya. Proyek MRT sedang berjalan tentu saja kemacetan akan semakin parah karena jalan-jalan yang menyempit. Selain itu penghapusan 3 in 1 juga semakin memperparah kemacetan. Sistem pengganti ganjil-genap saya nilai kurang begitu berhasil lantaran kontrol yang kurang maksimal. Trial ERP yang tidak jelas progresnya, lihat saja alat pendukung ERP yang mangkrak di Jl. Rasuna Said dan Jl. Sudirman.

Apakah tidak ada kebaikan? Tentu saja ada, kebersihan sungai harus saya akui cukup mengesankan. Got-got kecil juga sekarang jauh lebih bersih, ya walaupun masih banyak warga DKI yang walaupun tingkat pendidikan setara magister tapi masih saja sering membuang sampah sembarangan. Armada bus Trans Jakarta juga semakin bertambah, ya walaupun beberapa koridor masih harus menunggu satu jam lebih, tapi peningkatan armada ini harus saya acungi jempol. Ketidakjelasan jadwal kedatangan armada bus masih menjadi PR besar, ya mungkin takkan tersolusikan mengingat warga Jakarta tak terlalu peduli dengan waktu.

Kembali ke nama-nama penjegal incumbent, sekarang ini muncul tiga kandidat yang mungkin akan maju sebagai pesaing incumbent. Mereka adalah Sandiaga Uno yang akan diusung oleh Gerindra, Yusril Ihza Mahendra, dan Risma yang mungkin akan diusung oleh PDI-P. Dari ketiga nama tersebut, Risma adalah calon yang paling kuat dibandingkan yang lain. Pemberitaan media cukup gencar sehingga mengangkat namanya bersanding dengan nama besar seperti Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo, Joko Widodo, dan Basuki.

Jika saja Risma bersedia untuk menjadi calon DKI-1, tentu saja persaingan memperebutkan DKI-1 akan sangat sengit. Tak hanya di level atas, pergolakan akan sangat mungkin terjadi di akar rumput layaknya Pilpres 2014. Tentu saja warga DKI merindukan sosok yang lebih santun untuk memimpin ibukota negara ini. Perlu digaris bawahi, pemimpin baik dan tegas itu penting, tapi kesopanan itu adalah hal yang mandatory bagi seorang pemimpin. Semoga Jakarta mendapatkan pemimpin yang amanah (terutama dengan sumpah jabatannya, 5 tahun ya 5 tahun, ndak pakek kurang).

This entry was posted in Ilmiah, Ulasan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s