Perkembangan Sepatu di Indonesia


Seiring dengan perubahan tingkat ekonomi saya, ada perubahan drastis yang saya observasi dari sepatu-sepatu yang dipakai oleh teman-teman saya. Mulai dari SD sampai kerja di kantor. Perubahan yang drastis karena pada masa saya sekolah, teman-teman saya memakai sepatu kelas entry level sampai dengan intermediate, sekarang dengan teman-teman yang sudah memiliki penghasilan tetap, sepatu yang dipakai lebih beragam mulai dari entry level s.d. kelas premium. Sebagai observer, saya berada pada kelas entry level dan intermediate. Tidak berubah dari sejak masih kecil. Mungkin karena sudah cetakannya dari golongan melarat, agak kagok kalau harus beli sepatu yang kelas premium.

Kembali ke tujuan awal tulisan ini, saya akan membahas perkembangan sepatu yang saya observasi dari jaman saya masih SD sampai saya bekerja di perusahaan telco.

Generasi Edo, eh maksud saya generasi SD
Berada di pinggiran Jawa Timur, terbatasnya media telekomunikasi, dan belum meratanya kondisi ekonomi di tahun 1990an membatasi ruang lingkup observasi saya terhadap perkembangan sepatu. Didukung juga pergaulan yang terbatas, sedikit yang bisa saya jabarkan merek-merek sepatu pada masa itu.

Pada masa SD, sepatu yang kebanyakan dipakai adalah sepatu hitam, sepatu khusus sekolah. Pada masa itu, sepatu sekolah dipakai juga untuk sepatu olahraga. Terkadang, pada saat olahraga, murid-murid lebih suka melepas sepatu agar tidak cepat rusak. Berikut adalah merek sepatu sekolah yang populer di masa SD.

ProATT
Merek sepatu ini paling banyak dipakai oleh anak-anak SD terutama di tempat saya bersekolah dulu. ProATT adalah salah satu yang paling populer pada masa itu, terutama yang desainnya bukan menggunakan tali melainkan VELCRO.

pro-att

Pada masa itu juga muncul trend sepatu yang bisa menyala ketika diinjak. Kalau kamu punya sepatu yang bisa menyala ketika diinjak, bisa dibilang kamu adalah orang paling keren pada masa itu.

New Era
Sepatu New Era memiliki desain yang lebih modern. Saya memakai merek ini hingga saya bekerja.

new-era

Homyped
Walaupun lebih terkenal dengan sepatu gunungnya, tapi homyped juga hadir dengan model sepatu sekolahnya.

homyped

Carvil
Merek ini juga lebih terkenal dengan sandal gunungnya. Bintang iklan yang lumayan identik dengan Carvil adalah Rano Karno. Namun demikian, sepatu sekolah Carvil juga cukup terkenal. Bahkan merek ini dianggap sepatu dengan kasta yang tinggi mengingat harganya yang lumayan mahal pada masa itu.

carvil

Bata
Sepatu Bata terkenal karena awetnya. Saya masih ingat dulu dibelikan sepatu Bata tidak pernah rusak sampai tidak bisa dipakai lagi karena ukurannya kekecilan.

bata

Loggo
Sepatu ini cukup populer karena banyak iklannya di TV. Mungkin merek ini plesetan dari sepatu Lotto asal Italia.

loggo

Generasi SMP, Awal tahun 2000
Pada masa ini, teman-teman saya lebih beragam. Berangkat dari SD yang jauh dari kota, masuk ke SMP nomor wahid di kabupaten, teman-teman sekolah saya lebih beragam. Mulai dari kamu kere seperti saya yang bayar SPP saja harus minta keringanan dari pak Lurah, sampai anak pejabat masuk sekolah ini.

Beragamnya tingkat strata sosial juga mempengaruhi obyek observasi saya yang juga menjadi lebih bervariasi. Sepatu olahraga sudah mulai muncul di level ini. Walaupun harus kucing-kucingan dengan bagian kedisiplinan sekolah karena memakai sepatu yang tidak berwarna hitam tidak diijinkan.

Di level ini, saya mulai menemukan lebih banyak sepatu merek internasional yang tidak saya jumpai di SD. Walaupun merek lokal masih mendominasi.

Eagle
Bahasa gaulnya “egle” e dibaca seperti pada kata tempe. Merek ini bisa dikatakan paling populer karena cukup mendominasi. Bahkan untuk lomba baris berbaris, peserta menggunakan sepatu merek ini agar seragam.

eagle

Spotec
Sepatu spotec mulai masuk terutama dipakai oleh anak-anak basket.

spotec

Specs
Sederajat dengan Spotec.

specs

Low Premium FILA, dan Lotto
Di sini saya sebut low premium mengacu pada harga yang masih saya katakan terjangkau. Biasanya dua merek ini dipakai oleh anak-anak sepakbola dan futsal. Dua merek ini mengawali era sepatu merek luar negeri dari bahasan artikel ini.

Generasi SMA
Generasi SMA cenderung sama dengan generasi SMP. Merek-merek sepatu yang beredar cenderung sama, hanya penambahan merek-merek low premium dari luar negeri. Merek-merek seperti Bata, Eagle, dan Loggo jamak ditemui di era ini. Hal ini tak lepas dari perpindahan alumni SMP ke SMA yang cukup mendominasi lebih dari 50%. Bisa dikatakan SMA saya berasal dari 60% alumni SMP saya, sedangkan 30% alumni SMP saya melanjutkan ke SMA rival saya. 10% sisanya masuk ke SMK, MAN, dan SMA lainnya.

Low Premium Diadora
Biasanya dipakai untuk hari yang ada mata pelajaran olahraga. Kebanyakan tipe sepatu futsal atau sepakbola.

diadora

Puma
Sepatu Puma dipakai juga untuk olahraga dalam bentuk tipe futsal, sepakbola, dan basket.

puma

Reebok
Jarang ada yang pakai, namun masih bisa ditemukan terutama untuk basket.

reebok

Masa Kuliah
Masa kuliah ini sepertinya mulai mengalami degradasi. Ini tak lepas dari jurusan yang saya pilih yaitu teknik elektro. Didominasi pria, menjadikan fashion sepatu menjadi tak berharga. Sepatu diinjak bagian belakangnya untuk memudahkan mobilitas dan lepas-pakai.

Namun demikian, muncul merek-merek premium baru dari kelas sneaker. Sepatu-sepatu ini biasanya dipakai oleh mahasiswa asal kota-kota besar seperti Surabaya dan Jakarta.

Airwalk
Di masa sekolah saya, belum pernah saya dengar merek ini. Sepertinya hanya dijual di kota-kota besar saja. Merek ini menyasar kelas intermediate dan premium.

airwalk

Converse
Merek converse terkenal dengan model sepatu kanvasnya. Ada teman kuliah saya yang sejak saya kenal dari awal semester (dulu kebetulan satu kelompok praktikum PL) sampai sekarang masih sangat senang dengan sepatu model ini. Merek ini juga baru saya dengar di masa kuliah.

Vans
Merek ini juga baru saya tahu di masa kuliah. Model sneaker adalah yang populer dari merek ini.

vans

Masa Kerja
Bulan pertama saya kerja, saya pakai sepatu pantofel. Seumur hidup saya, saya memakai pantofel hanya pada saat seminar kerja praktik, seminar tugas akhir, dan sidang tugas akhir. Pada saat kerja, saya hanya bertahan sebulan memakai pantofel. Selebihnya saya memakai sandal dan sepatu sneaker.

Pada masa kerja, saya menemukan sepatu-sepatu yang harganya di luar nalar saya. Sementara saya hanya memakai sandal gunung di kantor, rekan-rekan kerja saya menggunakan sepatu yang harganya high premium. Walaupun masih bisa ditemui karyawan yang menggunakan sepatu produksi lokal seperti Eagle, Specs, dan New Era (ini sepatu yang saya pakai waktu pertama kali masuk kerja, sekarang sudah pensiun karena solnya sudah habis).

ADIDAS
Sepatu high premium yang harganya selangit. Harga termurah dari sepatu adidas bisa mencapai 500rb.

adidas

Nike
Sepatu high premium berikutnya adalah Nike. Sepatu yang populer dengan corak tanda betulnya ini adalah yang paling populer di kantor. Dengan warna hijau neonnya yang mencolok seakan menunjukkan kastanya yang tinggi. Sepatu ini yang paling murah bisa mencapai 700rb.

New Balance
Jika sepatu Nike banyak ditemui dalam model sepatu lari, New Balance lebih banyak ditemui dalam bentuk sneakers. New Balance hadir tak hanya untuk kelas high premium tapi juga middle premium. Hal ini bisa dilihat dari rentang harga yang lebih bervariasi mulai dari 300rb.

new-balance

Asics
Asics merupakan sepatu paling mahal di kelas premium. Harga paling bawah yang saya jumpai di atas 1jt. Wajar jika merek yang terafiliasi dengan Onitsuka ini membandrol harganya di atas rata-rata karena memang langsung diimpor dari Japan. Saya tidak tahu kenapa Asics bisa lebih mahal daripada Nike, Adidas, atau Puma. Namun yang jelas, di beberapa toko sport, Asics jarang melego produknya di bawah harga 1jt. Tak seperti Nike dan Adidas yang cenderung sering melego barang stok lamanya sampai 70% karena banyak barang model baru yang masuk.

asics

Selain merek-merek besar itu, kelas high premiumnya Puma juga banyak dipakai. Kelas low premium Diadora dan middle premium Reebok juga banyak pemakainya.

Dari semua merek yang saya bahas, sebagian besar orang sangat fanatik terhadap satu merek. Namun jika boleh saya kategorikan, ada 3 kelompok besar yang sering saya temui, Nike Group, Adidas Group, dan New Balance group. Bisa jadi hasil observasi saya salah. Karena obyek yang saya amati terbatas.

This entry was posted in Generasi 90, Ulasan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s